MISTERI JAGAT BAYI (BABY UNIVERSES), LUBANG HITAM DAN JAGAT GAIB

Standar

Jagat Raya berawal dari singularitas (titik awal) yang kemudian terjadi Big Bang (Dentuman Besar). Namun teori ini tidak menjawab keberadaan alam gaib. Masalahnya darimana singularitas itu? apakah muncul dari ketiadaan? Lantas mungkinkah manusia meneliti sesuatu sebelum singularitas?

Ini menimbulkan dilema karena menyentuh aspek relijius. Tahun 1981, Gereja katolik Vatikan mengadakan konferensi seputar Jagat Raya. Ketika itu Paus Johannes Paulus mengatakan tidak masalah mempelajari evolusi Jagat Raya setelah Dentuman Besar. Tetapi ilmuwan tidak boleh menyelidiki Dentuman Besar, karena itulah saat awal penciptaan Jagat Raya.

Sejauh ini singularitas memang tidak dapat diformulasikan hukum fisika. Dengan kata lain, hukum fisika tidak berlaku pada awal terbentuknya Jagat Raya. Padahal, menyebut singularitas muncul dari ketiadaan tidak sejalan dengan hukum Kekekalan Energi (energi tidak dapat diciptakan dan dimusnahkan).

Kemudian lahirlah hipotesis Lubang Hitam. Hipotesis ini dapat menjawab asal usul singularitas, sekaligus membuka kemungkinan adanya alam gaib. Namun, konsekwensinya muncul gagasan lain yaitu Jagat Raya tidak memiliki awal dan akhir.

Lubang Hitam

Untuk memahami Lubang Hitam, secara ringkas dapat dijelaskan sbb:

Kita mulai dengan mengetahui daur hidup bintang. Bintang terbentuk bila sejumlah besar gas (hidrogen) mulai mampat karena forsa (tarikan) gravitasi.

Atom gas saling tabrakan dengan laju semakin tinggi membuat gas menjadi sangat panas. Akhirnya, setiap tabrakan dua atom hidrogen bukannya terpental melainkan lengket membentuk atom helium. Kalor yag dibebaskan (mirip ledakan bom hidrogen) menyebabkan bintang bersinar.

Kalor ini juga berfungsi meningkatkan tekanan gas sehingga cukup untuk mengimbangi forsa gravitas agar tidak mengerut (seperti balon: ada perimbangan antara tekanan udara di dalamnya yang berusaha memuaikan balon dan ada tegangan karet yang berusaha mengecilkan balon). Kondisi ini membuat bintang stabil untuk waktu lama.

Namun suatu ketika bintang itu kehabisan hidrogen. Semakin banyak bahan bakar awal bintang itu, semakin cepat habis. Karena semakin masif bintang, diperlukan suhu yang semakin tinggi untuk mengimbangi forsa gravitas.

Apabila kehabisan bahan bakar, bintang itu mendingin, mengecil dan memampat atau disebut bintang mati. Lalu apa yang terjadi selanjutnya?



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s